pluralisme

pluralisme
pluralisme

Rabu, 25 April 2012

SETAN YANG BERPARAS MALAIKAT

Dalam suatu jalinan pasti selalu melekat dengan namanya suatu kesetiaan dan penghianatan.Kesetiaan dalam suatu hubungan pastinya sangat di idam kan oleh setiap makhluk yang bernyawa,karena didalam kesetiaan terdapat suatu rasa diamana rasa tersebut sangat suci adanya,yang di namakan cinta.Rasa cinta dapat kita tanamkan pada jalinan suatu persahabatan pada,kekeluargaan,kemasyarakatan dan yang lebih khusus kepada seoarang kekasih.
Dilain sisi yang bersebrangan dari sebuah kesetiaan,terdapat suatu rasa,tindakan yang amat sangat di hindari dalam suatu jalinan ataupun hubungan,rasa dan tindakan tersebut adalah penghianatan.Di mana keberadaan rasa dan tindakan ini sangat di benci bahkan ada yang menkutuk-kutuk keberadaanya.Namun diantara keduanya kesetiaan dan penghianatan tidak dapat di pisah satu dengan lainnya,dia akan selalu berjalan beriringan adanya.
Kehancuran suatu hubungan kekeluargaan,kemasyarakatan,persahabatan banyak di tentukan dengan adanya sikap penghianatan yang terbalutkan oleh rasa kesetiaan.Banyak manusia yang tertipu dengan satu kalimat kesetiaan,karena dalam kesetiaan tersebut bukanlah suatu kesetiaan asli yang dia bawa melainkan penghianatan yang terbungkus oleh kesetiaan tak ubahnya sama dengan setan yang berparas malaikat.
Manusia sering kali tertipu oleh suatu perbuatan luar manusia yang dia kerjakan.Karena sebagian besar dari semua manusia hanya menilai sesuatu dari penglihatan sekilas dan luarnya saja,sehingga banyak manusia yang disesalkan oleh tindakan manusia yang membungkus sifat buruknya dengan kebaikan,atau membungkus penghianatan dengan kesetiaan.
Seharusnya setiap manusia jangan melakukan penialaian dini terhadap suatu objek jika dalam pengliahatan manusia tersebut masih dalam pandangan luarnya saja.Karena dengan ini manusia akan di sesalkan atas penilaiannya kepada sesuatu yang tidalk sesuei dengan kenyataan.
Dengan tidak melkaukan penilaian dini terhadap sesuatu,manusia akan mengetahuai kebenaran atau esensi dari apa yang dia lihat dengan kenyataan,walapun kebenaran yang ada bukanlah kebenaran yang hakiki,karena dalam kebenaran yang di usung manusia hanyalah bersifat relatif.

malang,16 April 2012


Ali imron

Tidak ada komentar:

Posting Komentar